Jumat, 05 Maret 2010

TOTALITAS SeBUah PilIihan

Dalam Hidup kita akan selalu diperhadapkan Dg sebuah pilihan,begitu besar peran nya dalam menentukan sebuah perjalanan Kehidupan sehingga setiap orang yang memilih untuk tidak memilih pada ahirnya akan menuju pada sebuah penyesalan walaupun tidak secara utuh terjadi.dalam hal ini kasusnya mungkin berbeda dimana pilihan itu bukan sebuah hal yang penting dan mendasar. sebuah ilustrasi sederhana menggambarkan betapa penting kita memilih.

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.

Pak tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama,

lalu Ia mengambil segenggam serbuk pahit

dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air.Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan, “Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya “, ujar pak tua “Pahit, pahit sekali “, jawab pemuda itu sambil meludah ke samping

Pak tua itu tersenyum,

lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telagaitu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda meregukair itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, “Bagaimana rasanya ?” “Segar”, sahut si pemuda.“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua “Tidak, ” sahut pemuda ituPak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata: “Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan,adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang.

Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama.

Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya.

Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup,

hanya ada satu yg kamu dapat lakukan;

Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu,

Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”. Pak tua itu lalu kembali menasehatkan:

“Hatimu adalah wadah itu;

Perasaanmu adalah tempat itu;

Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.

Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas,

buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu,

dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.Karena Hidup adalah sebuah pilihan.


menjadi seorang Hamba Tuhan /pelayan MezbahNya adalah sebuah Pilihan Atau sebuah Kewajiban? menjadi Pelayan di sebuah gereja mengwajibkan kita untuk memahami bagian yangharus kita mengerti sebagai tugas pelayanan.

Trend pelayanan yang sedang berkembang ditengah kehidupan sekarang ini dimana banyak orang salah mengartikan bagaimana seharusnya yang dikatakan melayani ,banyak orang berpendapat bahwa melayani harus menginjil,memberitakan Firman Tuhan.menjadi pelayan perjamuan Digereja.Memang ornag yang memilih memutuskan untuk dima dalam pelayanan tsb mengambil keputusan untuk menjadi Abdi Allah dalam AltarNya,pilihan yang menjadi sebuah Totalitas untuk menjadi imam,Ataupun Rasul sebagaimana telah terjadi sebelumnya banyak Fakta dalam Kitab Suci Imam dan RAsul Mengabdikan Diri Sepenuhnya Menjadi Pelayan Tuhan.

Zaman sekarang bukan lagi seperti Pada Zaman ketika Rasul PAulus ,Zaman Yang semakin mAju seiring dg berkembangnya Banyak hal dalam kehidupan ini. begitu juga dg Sebuah Pelayanan,ketika seorang memutuskan untuk menjadi Abdi Allah diperlukan Pengorbanan yang besar,karena ketika seorang terpanggil menjadi Rasul, maka dia Harus Rela dg segenap Hati dan Jiwanya memberikan Seluruh Hidupnya Untuk Menjadi pelayan Tuhan.artinya Butuh sebuah TOTALITAS dalam Pilihan Jalan Hidupnya.karena Ketika dia tidak Berada Pada Jalur itu,maka Sangatlah Kecil kemungkinan Dia bisa Berhasil dalam Pelayannya. dalam surat Paulus Kepada Jemaat timotius(2 Timotius 4:7) berkata Aku telah Mengahiri pertandingan Yang baik,aku telah mencapai garis ahir dan aku telah memlihara iman. Rasul Paulus hingga pada ahir hidupnya berdiri Teguh dalam tugas pelayannya sebagai Abdi Allah, dia memutuskan untuk mengahiri sisa hidupnya dg menjadi Rasul kesetiaanyamembawanya tiba pada garis finish dimana setiap orang akan menerima ganjaran yang sepadan dg hasil pekerjaanya.dan Rasul Paulus membuktikan dirinya layak menjadi pewaris mahkota kemenangan bukti Totalitas Dia melayani Tuhan,dan berjuang hingga tiba pada Garis ahir Tuhan mengijinkan dia hidup.

Hari hari ini umat kristen dituntut untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan, melayani bukan berarti kita harus menjadi seorang Pdt ataupun Penginjil atau pelayan di Mimbar gereja,Melayani adalh sebuah Hal yang berkembang dan tidak monoton,pelayanan dimulai dari diri kita sendiri bukan kah tubuh kita adalah BaitNya? ketika kita Mengasihi diri kita seatinya kita sudah ikut ambil bagiandalam pelayanan itu,selanjutnya adalah saat dimana kita melayani orang lain dg kasih dan kemurahan yang kita boleh bagikan,ikut merasakan penderitaan ketika orang lain Berduka ketika setiap perbuatan kita, sikap kita, gaya hidup kita boleh menjadi Berkat bagi orang lain, sebenarnya kita sedang terjun dalam melayani Tuhan, karena saat itulah orang boleh Melihat Bahwa Yesus berdiam Dalam hidup kita, dan apabila itu terjadi kita sedang melayani karena dengan demikian Nama Yesus sedang dimuliakan.

Berbicara tentang Totalitas dalam Pelayanan memang itu adalah sebuah Pilihan dalam Kehidupan, bagi mereka yang memutuskan total dalam pelayanan,bagian yang mereka akan terima lebih istimewa dibandingkan dg orang yang lebih memilih melayani dalam keseharian nya. tergantung kepadakita apakah kita hanya mau menerima 30 atau 60 atau bahkan 100 kali lipat!?yang pasti semua ada pada porsinya.pada ahirnya semua akan bermuara pada panggilan kita secara pribadi,panggilan yang berasal dari Tuhan akan menuntun kita untuk berdiri teguh, asal kita mau mengikuti apa yang Tuhan mau kita kerjakan niscaya kita pasti akan tiba pada garis ahir dimana telah tersedia Mahkota kehidupan sesuai dg bagian kita masing masing.


Selasa, 23 Februari 2010

Tinta Emas

Lima tahun sudah berlalu dalam tuntunan Tuhan, Yayasan Hatinurani boleh menjadi lembaga yang ikut ambil bagian dalam meneruskan Visi dan Misi Yang Tuhan telah amanatkan dalam FirmanNya. Pergilah.!! Jadikanlah semua Bangsa muridku, baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Rasa syukur karena Tuhan Mengijinkan Yayasan ini menjadi Alat Untuk meneruskan Amanat Agung itu. Sejatinya usia dini adalah suatu masa dimana dalam pribadinya akan di tuliskan banyak hal yang akan menjadi jati dirinya ketika dia bertumbuh semakin matang.

Orang Tua yang baik pasti akan mengajarkan pedoman hidup yang baik pula kelak jadi bekal ketika dia menjadi dewasa, bekal untuk mengarungi tantangan, menaklukkan persoalan dan keluar menjadi pemenang. Tantangan hidup akan selalu datang silih berganti tak terkecuali ketika Yayasan Hatinurani berusia 5 tahun. Tuhan menggoreskan banyak hal dalam pribadi Yayasan ini.

Tinta emas yang ada dalam setiap firmanNYa hadir menjadi Pedoman dalam meneruskan Visi dan Misi Pelayanannya sebagai bagian dari alatNya.
Yayasan Hatinurani menjadi sebuah lembaga yang menjadi perpanjangan tangan Tuhan Dalam memberitakan kebenaran dalam Amanat AgungNya. Yayasan ini bersyukur boleh memberikan kontribusi dalam meringankan beban sebagian kecil masyarakat yang hidup dengan segala kekurangan. Kekurangan secara Jasmani terlebih secara Rohani. Ketika Yesus masih ada didunia menjalankan pelayananNya, adalah sebuah teladan yang patut kita tiru sebagai anak anakNya. YESUS mengasihi orang yang berkekurangan tentunya dengan perbuatan baik kita. Memberi mekanan, minuman, pakaian serta yang terutama memenuhi jiwanya dg Firman ALLAH yang Hidup. Sejatinya itulah pelayanan yang sesungguhnya dan Yesus telah membuktikanNYa.

Untuk beberapa kali kesempatan baik Yayasan boleh ikut ambil bagian dalam pelayanan ini walaupun dg kesederhanaan dan keterbatasan Badan Pengurus Harian selama 5 tahun aktif menghimpun sumbangan dari Donatur, relawan yang dg sukacita membagi sebagian dari berkat yang Tuhan limpahkan dalam hidup mereka untuk dibagikan kepada mereka yang sangat berkekurangan. Memang belum sepenuhnya bisa memuaskan mereka, tapi bukan kah lebih baik dari pada tidak sama sekali?!
Ingin sekali Aku berbuat lebih banyak lagi, tanpa harus melihat siapa pribadi yang ditolong. Sangat bahagia rasanya melihat mereka boleh pulang dengan senyuman tatkala menginjakkan kaki keluar dari ruang persekutuan. Boleh menenteng bingkisan sebagai berkat jasmani menyempurnakan berkat rohani yang sudah diterima walaupun itu cukup hanya untuk bekal sehari saja, akan sungguh itu telah menyajikan satu kesukaan dalam keluarga yang hidup serba berkekurangan.

Masih teringat dengan jelas setiap tahun, ketika Yayasan berulang tahun segenap jemaat yang menjadi anggota yayasan diapresiasi sebuah penghargaan buat setiap mereka yang memiliki jam kehadiran paling banyak selama setahun. akh..h.h. momentnya terasa sangat dalam. Apakah ini yang Engkau mau ya Tuhan!
Izinkan kami melanjutkan tugas pelayanan ini hingga kami boleh tiba pada garis akhir, dimana kami bisa menuntaskan Amanat AgungMu dalam dunia yang akan berlalu. TuntunanMu akan membawa kami untuk mampu dan kuat dalam berjalan di visiMu. Jadilah pada kami apa yang Engkau Kehendaki Yayasan ini boleh lakukan demi kemuliaan NamaMU. Happy Birthday Yayasan Hatinurani yang ke lima, 31 Januari 2010. Tuhan Yesus Memberkati

Sabtu, 20 Februari 2010

Teguh Dalam Pengharapan




Apakah sebenarnya arti kata “harapan”? Seberapa pentingkah “harapan” itu?

Harapan itu sangat penting. Karena harapan, manusia memiliki tujuan hidup. Untuk tujuan hidup itulah kita bertahan hidup. Tanpa harapan, berarti tanpa tujuan maka hidup menjadi tidak berarti.

Manusia yang hidup tanpa harapan, sama saja seperti seseorang yang sedang berjalan di jalan yang panjang tanpa rambu-rambu, tanpa penunjuk jalan, dan tanpa rasa pasti apa yang ada di ujung jalan tersebut. Apakah kita bisa terus berjalan di jalan yang seperti itu?

Untuk beberapa saat mungkin ya, tapi pasti kita akan merasa lelah, dan mencoba melihat apakah ada jalan lain yang lebih jelas, dan apabila ada jalan lain yang bisa memberikan harapan maka kita akan memikirkan untuk beralih memilih jalan lain tersebut daripada terus bersabar menyusuri jalan yang sama sekali tidak kita ketahui akhirnya.

Sayangnya saat ini aku masih menyusuri jalan panjang yang tidak jelas tanpa rambu2 ini. Saat ini aku mulai lelah, namun kau tak memberitahu apa yang akan aku dapatkan di ujung jalan ini. Satu-satunya yang membuatku terus bertahan di jalan ini adalah karena rasa sayangku padamu. Aku ingin, ingin sekali meneruskan jalanku di sini, tapi aku mulai lelah dan putus asa. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

Harapanku saat ini adalah kau akan memberitahuku akhir dari jalan ini atau aku akan berhenti untuk berusaha mencari jalan yang lain yang bisa memberikanku harapan. Aku harap kau bisa mengerti.

Memang benar kita tidak akan pernah tahu apakah kita akan sampai di ujung jalan lain itu ataukah sebelum kita sampai pada ujung jalan itu kita akan menemui berbagai halangan atau atau yang lain…

Namun apabila aku menemukan jalan lain dengan harapan itu aku akan memilih untuk menyusurinya. Aku akan berusaha untuk bisa mencapai ujung jalan tersebut dan meraih harapan yang menantiku di sana. Aku benarbenar berharap Tuhan akan memberikan petunjuk jalan mana yang harus aku tempuh.

Menantikan harapan itu menjadi kenyataan membutuhkan ketekunan, mengerjakan semua dengan sabar, dan menahan diri untuk tidak berbuat diluar kontrol. Pada ahirnya keteguhan hati akan menjadi jawaban dari hal-hal kita nantikan. Jalan-jalan yang kita tempuh akan berujung pada sebuah harapan yang menjadi nyata, saat dimana kita menemukan tujuan yang sebenarnya tanpa meragukan sedikitpun apa yang sudah kita capai.

Kontras dalam kehidupan kita sebagai manusia, Tuhan seringkali mengucapkan kata "teguh". Teguh dalam menanti-nantikan janjiNYa 'kan digenapi, teguh dalam mengerjakan tanggung jawab, bahkan teguh dalam mengerjakan keselamatan yang sudah dianugerahkanNYa bagi kita.

Apa yang menjadi harapan orang Kristen? Sebelum merenungkan harapan anak-anak Tuhan, marilah kita lihat bagaimana iman sebagai orang-orang Kristen. Dalam Surat Ibrani 11:1 tertulis “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”.

Demikianlah seharusnya harapan orang Kristen didasarkan. Iman itu akan melindungi kita dalam menghadapi berbagai pencobaan hidup. Iman itu pula yang menuntun kita untuk setia dan menjaga ketaatan kita kepada Tuhan sambil menantikan penggenapan dari janji-janji-Nya.

Ahirnya dalam segala hal, "Teguh" adalah kunci untuk mencapai semua harapan yang terbentang didepan.

Ketika kita bertemu dengan sebuah jalan yang tidak menentu atau sebuah permasalahan yang sepertinya tidak ada solusinya, tetaplah kerjakan semua dengan teguh, niscaya didepan pasti ada terang, asal saja kita mampu dan bertahan didalam keteguhan hati kita.